Share This Post

Budaya / Gaya Hidup / Internasional / Kepnas / Media

Menulis Mengubah Dunia

Menulis Mengubah Dunia

Oleh: M. Samsul Arifin

MENULIS mengubah dunia, adalah kalimat yang tak berlebihan. Melalui tulisan, banyak hal bisa terjadi, banyak hal mengalami perubahan. Banyak kasus terjadi di dunia karena bermula dari tulisan. Banyak pula tokoh-tokoh di dunia memulai gagasan perubahannya melalui tulisan.

RA Kartini, adalah salah satu contoh tokoh tersebut. Melalui tulisannya, ia menggugat stigma yang diberikan kala itu kepada perempuan Indonesia. Bahwa perempuan-saat itu-dianggap hanya berada di dapur dan kasur. Karena stigma itu seorang anak perempuan dianggap tak layak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.

Tak ayal, ada kelakar bahwa wanita itu harus wani ditata (harus bisa diatur) oleh para kaum lelaki. Melalui tulisan, ia hendak memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam pendidikan. Tulisan (surat) yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang ternyata mampu menginspirasi jutaan perempuan di Indonesia untuk memperjuangkan nasibnya.

Kartini menjadi simbol perjuangan bagi kaum perempuan yang juga menginginkan hidup yang lebih layak. Benar saja, melalui tulisannya itu jutaan perempuan di Indonesia tergugah. Kendati belum di semua daerah, perlakuan diskriminasi pada perempuan perlahan namun pasti akan sirna.

Ini artinya, melalui tulisan bisa didengar dan bahkan diikuti. Ada ungkapan penuh hikmah, dengan pistol dapat membunuh satu kepala, tetapi dengan tulisan dapat membunuh seribu kepala. Dashyat bukan The Power of Writing.

Kendati RA Kartini meninggal dalam usia muda, gagasan dan buah pemikirannya terus dikenang hingga saat ini, sampai-sampai di Indonesia ada hari khusus untuk memperingatinya. Pramoedya Ananta Toer pernah mengungkapkan bahwa orang boleh pandai setinggi langit, namun selama tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan arus pusaran sejarah.

Bekal Penulis
Ilmuwan Fisika, Stephen King pernah menuturkan bahwa menulis adalah mencipta dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. Pertanyaannya, apa yang hendak kita tulis jika kita tak memiliki bekal?.

Itu pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab. Untuk menghasilkan tulisan yang baik dan mengubah dunia, seorang penulis membutuhkan bekal. Di antaranya, ketertarikan dengan lingkungan sekitar, bersikap kritis, gigih dan mau bergaul dengan orang lain.

Dari ketertarikan dengan lingkungan sekitar, seorang penulis akan mendapatkan ide tulisan mengenai suatu realitas kehidupan yang terjadi. Setelah mendapatkan ide, penulis harus memiliki daya kritis untuk mengecek informasi yang diperolehnya itu. Teknologi mesin pencari di internet, wawancara langsung pada orang-orang yang terlibat, dsb, dapat kita gunakan ketika hendak mengecek berbagai informasi.

Kita juga harus memiliki kegigihan untuk membaca. Apa yang mau kita torehkan melalui tulisan jika kita tak memiliki koleksi bacaan, malas membaca. Sebaiknya simpanlah jauh-jauh khayalan untuk menulis atau jadi penulis kala malas masih lebih dominan.

Penulis buku Best Seller, M. Fauzil Adzim dalam Inspiring Words for Writers pernah mengingat kita semua. “Para pemalas menggunakan mood sebagai alasan untuk tak bertindak. Para idealis bertindak mengendalikan mood untuk menghalau kemalasan,” ucapnya.

Bekal penulis yang terakhir adalah tak malas dan berani menuliskannya. Bagaimana gagasannya itu dapat dibaca publik dan memiliki daya gugah jika tak dituangkannya dalam bentuk tulisan. Tokoh pembawa perubahan itu setidaknya bekal awalnya adalah keberanian, sehingga jika kita ingin “menulis mengubah dunia” tentu kita harus berani untuk menuliskannya.

Menjadi pribadi yang suka berbagi sungguh membuat rasa lega yang amat sangat. Tak perlu kita terlalu lama dengan sengaja mendendam dan memendam rasa, karena menulis dapat mengubah dunia. Wallahu a’lam.

Share This Post

Leave a Reply